Jumat, 28 Juni 2013
Kamis, 27 Juni 2013
Menggapai Mimpi Demi Bunda
Roda kehidupan selalu berputar, terkadang di atas dan terkadang di bawah. Setiap orang pasti ingin hidup bahagia, mempunyai banyak harta, rumah mewah, pendidikan tinggi, dan kesuksesan yang tiada terkira. Tetapi kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan, bagaimanapun dan seperti apapun keadaan kita saat sekarang ini. Seperti halnya yang dilakukan oleh Arel. Sejak kecil Arel tinggal bersama bundanya di sebuah perumahan kumuh di salah satu daerah kota Jakarta. Kondisi ekonomi yang memprihatinkan memaksa Arel untuk tumbuh menjadi anak yang mandiri dan cerdas. Setiap hari Arel harus membantu bundanya berjualan di gerbong kereta api atau terkadang Arel ikut mengamen bersama teman –temannya. Semua itu dia lakukan hanya demi sesuap nasi. Arel mempunyai cita-cita menjadi seorang guru, karena dia ingin membagi ilmu kepada anak-anak di perkampungannya, selain itu dia juga ingin mendirikan sekolah gratis di perkampungannya. Mengingat semua anak-anak di perkampungannya mempunyai nasib yang sama dengan Arel, yang sehari-harinya membantu orang tua mereka untuk mencari sesuap nasi. Jadi, yang namanya bangku sekolah. Mereka tidak pernah merasakannya. Arel ingin mewujudkan semua angan-angannya itu, tetapi semua itu hanya mimpi bagi Arel. Untuk makan saja susah, apalagi untuk sekolah. Arel tidak pernah meminta permintaan lebih kepada bundanya, karena dia tahu keadaan bundanya saat sekarang ini. Bundanya sering sakit-sakitan dan bahkan pernah jatuh pingsan. Mereka tidak punya uang cukup untuk berobat ke rumah sakit. Bunda Arel selalu kelihatan tegar, dia tidak mau Arel kelihatan sedih melihat kondisi kesehatannya.
Pagi itu seperti biasanya Arel bersama teman-teman mengamen di gerbong kereta api. Bundanya masih sakit di rumah, karena itu Arel yang harus mencari uang untuk makan mereka hari ini. Arel bersama teman-temannya sangat bahagia melakukan pekerjaan ini. Walaupun hanya mengamen, tetapi suara merdu mereka dapat menghibur orang banyak. Menjelang sore hari Arel pulang ke rumah sambil menenteng plastik hitam berisi nasi bugkus. Melihat kondisi rumah yang sepi, membuat Arel panik. Dia khawatir dengan kondisi kesehatan bundanya. Betapa kagetnya Arel saat membuka pintu, Arel melihat bundanya terbujur kaku di atas tempat tidur. Dihampirinya bundanya dan diguncang-guncangkannya badan bundanya, tetapi semua itu sia-sia. Bundanya telah pergi meninggalkan Arel untuk selama-lamanya. Arel menangis terisak-isak, dia berteriak histeris” Bangun bundaaa,…Arel sayang bunda.” Mendengar teriakan Arel, semua tetangganya datang berduyun-duyun ke rumah Arel, mereka berusaha menenangkan Arel.
Setelah proses pemakaman selesai, salah seorang tetangga Arel menghampiri Arel.
“Arel,…Bunda kamu sudah tenang di surga sana nak.”
“ Kenapa bunda ninggalin Arel sendiri? Kenapa? Jawab bundaaaaa.” Kata Arel sambil terisak-isak.
“ Sayang, bunda sayang sama kamu, bunda lakukan ini semua karena dia tidak ingin kamu sedih. Bunda sudah tenang di surga nak.” Kata tante Anggi, berusaha menenangkan Arel.
Arel menangis terisak-isak di pelukan tante Anggi. Beban penderitaan yang harus dipikul Arel, terlalu berat untuk anak seumuran Arel. Arel yang masih berumur 10tahun, harus hidup sebatang kara.
Sejak bundanya meninggal, Arel tinggal bersama dengan orang tua angkatnya yang baru. Tante Anggi yang mengantar Arel ke Bogor, ke rumah orang tua angkatnya. Waktu itu Bunda Arel sempat menitip secarik kertas berisi alamat kepada tante Anggi saat Arel masih berumur 5tahun. Waktu itu bunda Arel memang sudah merasakan sakit luar biasa, tetapi berkat semangat hidupnya yang luar biasa dia masih bisa bertahan hidup 5 tahun lamanya, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya saat Arel berumur 10 tahun.
Kini Arel hidup bahagia bersama keluarga barunya, yang memang tidak dikaruniai anak. Arel diperlakukan dengan baik, disekolahkan, dan dididik seperti anak sendiri oleh orang tua angkatnya. Mimpi Arel sudah di depan mata, semua itu berkat motivasi terbesar dari bunda tersayangnya dan juga dukungan dari mama papanya.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa 20 tahun sudah Arel meninggalkan perkampungan kumuh itu. Kini dia bisa tersenyum lepas, semua cita dan mimpinya sudah terwujud. Sebuah sekolah telah berdiri dan kini Arel telah menjadi seorang dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di salah satu kota Jakarta. Tidak hanya itu, prestasinya terus terukir di dunia pendidikan, khususnya usahanya di dalam penyejahteraan anak-anak terlantar yang kurang beruntung di dunia pendidikan. Semangat Arel yang luar biasa, yang mampu mengubah hidupnya.
“ Arel sayang bunda, semua yang Arel raih selama ini, karena berkat bunda. Semoga Bunda bahagia di surga sana” Bisik Arel sambil terisak-isak di atas pemakaman bundanya.
Semua mimpi dan cita-cita Arel dapat terwujud karena dia mempunyai semangat juang yang tinggi, setiap orang pasti ingin hidup sukses. Untuk itu jangan hanya menunggu, tetapi jemputlah kesuksesanmu. Kunci utama sukses adalah fokus, semangat dan yakin. Untuk itu teruslah semangat menggapai mimpimu. Sama seperti Arel yang terus semangat menggapi mimpinya demi Sang Bunda.
Secercah Senyum di Balik Air Mata
Hari-hariku terasa sunyi, hanya mama yang selalu setia menemaniku. Sejak kejadian itu, aku dan mama harus hidup tanpa kehadiran seorang papa. Sosok yang aku kagumi, yang selalu memanjakanku. Selalu memberikan kejutan, berupa kado setiap papa pulang dari luar kota. Aku masih ingat sosok itu, sosok yang begitu aku sayang. Aku rindu kamu, papa.
“Alin…sayang” suara mama mengagetkanku.
“Iya ma,..
“Sayang kamu makan dulu ya, mama suapin okay.” Mama bergegas mengambil makanan di dapur, tanpa menunggu jawabanku. Mama memang istimewa, selalu memanjakanku.Selalu mengantarku sekolah, dan selalu menemaniku. Tinggal di perbukitan yang jauh dari keramaian, hanya berdua dengan mama, pantas saja hari-hariku terasa sunyi. Kami harus menjalani hari-hari di perbukitan ini selama bertahun-tahun, tidak terasa sudah 5 tahun aku dan mama tinggal di perbukitan Kiliranjo ini. Papa meninggal karena kecelakaan pesawat 10 tahun yang lalu, aku dan mama tidak pernah mengharapkan peristiwa itu. Rumah kami terpaksa dijual, untuk membayar semua tunggakan hutang papa di bank. Aku dan mama terlunta-lunta, hingga akhirnya kami tinggal di rumah teman mama. Mama harus bekerja sebagai pembantu di rumah tante Anggi. Mama melakukan semua ini karena mama tidak mau kami terlunta-lunta di jalanan. Mama selalu menghiburku, selalu tersenyum walau sebenarnya dalam hati mama, mama menangis, hati mama hancur, tetapi mama selalu kuat, yach mama adalah seorang wonder woman. Aku bangga, mempunyai mama. Kami tinggal di rumah tante Anggi selama 1 tahun, mama tidak betah karena Om Bambang suami tante Anggi selalu mengganggu mama. Mama tidak mau jadi perusak rumah tangga orang. Kami merantau, dan tinggal di sebuah pabrik tekstil, mama melamar kerja di sana, dan diterima. Kehidupan kami mulai membaik, hingga akhirnya aku bisa kembali ke bangku sekolah. 4 tahun kami tinggal di kompleks pabrik tekstil, hingga akhirnya aku dan mama tinggal di perbukitan ini. Aku dan mama bahagia tinggal di sini, suasananya aman, damai dan selalu menyejukan jiwa walau terkadang sedih selalu mendera hati kami berdua.
“Sayang…kamu kenapa menangis?”
“Ma…Alin rindu papa”
“ Sayang..papa udah bahagia di surga, kamu ga boleh sedih lagi”
“Tapi ma….”
Aku menangis terisak-isak, aku ga bisa melepas kesedihan ini. Aku percaya, papa pasti bahagia di sana, tapi rasa rinduku untuk papa ga bisa terobati. Aku rindu, ingin memeluk papa.
“Sayang…papa, mama, dan kamu ga pernah menginginkan peristiwa ini menimpa keluarga kita. Kamu ga boleh sedih lagi, janji sama mama ia?” Mama mengecup keningku, dan membenamkan wajahku yang sendu di pelukannya.
“Alin sayang mama…..”
“Mama juga sayang Alin.”
“Sekarang anak mama yang paling cantik ini, harus makan ia, mama suapin”
Aku tersenyum, aku bahagia mempunyai mama yang baik. Aku harus bisa membuat mama bangga, tekadku dalam hati. Menjadi penulis terkenal adalah mimpiku sejak kecil, aku selalu berharap bisa mewujudkan mimpiku. Kini aku sudah kelas 1 SMA, masa remaja yang paling indah. Akh..mungkinkah itu?aku tak yakin, ga seindah yang kupikirkan, mana ada yang bisa merubah kesedihan itu menjadi tawa bahagia.
“Sayang…mama mau pergi ke pasar. Kamu ikut atau tinggal di rumah?”
“Alin ikut ma…Alin bosan di rumah”
Letak pasar tradisional memang jauh dari rumah kami. Kami harus menuruni bukit ini selama 2 jam, bayangkan betapa jauhnya jarak yang kami tempuh. Dengan berjalan kaki kami menempuh perjalanan itu. Setelah sampai persimpangan, mobil angkotan baru bisa kami jumpai. Jauh memang, tapi itu tidak mengurungkan niatku untuk menemani mama. Mobil angkutan yang kami tumpangi sangatlah tidak nyaman, suaranya yang mengerang-erang karena kebanyakan penumpang, bau asap knalpotnya yang menyesakan pernafasan, maklum lah daerah pedalaman. Keadaannya yang begitu memprihatinkan. Aku berdoa dalam hati untuk keselamatan kami semua yang menumpangi mobil angkutan ini.
“Alin..kita sudah sampai” Mama membuyarkan lamunanku.
Aku turun dari mobil angkutan itu dan mengikuti mama. Mama menggandeng tanganku, seolah tak ingin pisah dariku. Ku lihat sekeliling pasar, tampak beberapa penjual yang asyik menawarkan barang dagangannya. Aku terpukau, baru kali ini aku merasakan kehidupan pasar. Jauh berbeda dengan suasana rumahku. Ramai, hiruk –pikuk keramaiannya sedikit bisa menghibur hatiku yang sedih. Mama bergegas menuju tempat penjual kebutuhan sehari-hari.
Dua jam menemani mama di pasar tradisional, akhirnya setelah selesai berbelanja, kami kembali ke rumah. Perjalanan yang sangat melelahkan.
“Alin…bantu mama mindahin sayuran ini ke kulkas ia”
“Okay ma…”Alin mengangkat tas berisi sayuran itu dan memindahkannya ke dalam kulkas. Tangan Alin terhenti, saat melihat koran pembungkus cabe . Diambilnya kertas koran itu, dan dibacanya. “Lomba menulis cerpen, 50 Juta hadiahnya dan 1 tahun sekolah di pelatihan penulis muda” Aku harus ikut. Teriak Alin.
“Ikut apa sayang?”mama Alin menghentikan teriakannya.
“Lomba menulis cerpen ma..Alin boleh ikut kan ma?”
“Mama pasti bangga kamu ikut lomba itu sayang, mama selalu dukung kamu”
“Makasih ma..”
Alin begitu bahagia, mama tersayang selalu memberinya support, selalu memotivasi dirinya, mama yang begitu hebat yang selalu memberikan kebahagiaan. Alin begitu bangga memiliki sosok wanita kuat itu. Kini mimpi itu sudah di depan mata, Alin bisa menggapai mimpi itu jika dia berusaha sekuat tenaga memberikan karya terbaiknya untuk bisa menang di kompetisi itu. Menjadi penulis terkenal adalah mimpi terindah yang Alin miliki sejak kecil. Senyum Alin mengembang melihat secarik kertas di hadapannya. “Aku harus bisa gapai mimpi itu.” Tekad Alin dalam hati.
“Alin…mama mau pergi ke rumah Bu Hardi , jangan lupa makan” Kata mama Alin sambil mengecup keningnya.
“Okay ma,..mama ga lama kan?”
“Malam mama pulangnya..besok suami Bu Hardi datang dari Bandung, persiapan untuk acara besok sayang.”
“Be careful ma”
Seperginya mamanya, Alin langsung masuk kamar. Dia mulai memainkan imajinasinya, diambilnya kertas, dengan gesit tangannya mulai mentorehkan kata-kata indah di atas kertas putih itu. Alin memang jago dalam dunia menulis, hanya saja bakat yang dia miliki tidak pernah tersalurkan selama ini. Semua hasil karya yang dia miliki hanya menumpuk di bawah kolong meja belajarnya. Sesekali Alin menempelnya di mading sekolah, itu pun jarang dia lakukan. Alin selalu kesal, karena tulisan-tulisanya selalu hilang, hilang tanpa ada yang tahu siapa yang mengambilnya.
“Aku harus bisa buat mama tersenyum bangga, karena ini kesempatan emas yang aku miliki. Aku ingin menggapai mimpi dan membawa mama keluar dari perbukitan ini”. Tekad Alin dalam hati.
Hidup berdua dengan mamanya di perbukitan Kiliranjo, membuat Alin tumbuh menjadi anak yang baik, dewasa, dan selalu bersemangat dalam menggapai cita-citanya. Tidak heran jika mamanya begitu menyayanginya. Hidup memang indah, seberat apa pun masalah yang menimpa kita, kita harus kuat, tabah, dan sabar untuk menghadapinya. Perjuangan hidup yang luar biasa, yang harus kita lalui, walau terkadang kerikil-kerikil kehidupan yang tajam menghantam kita. Jangan goyah, tetapi teruslah berusaha untuk menggapai kebahagiaan dalam hidup kita.
“Humm…akhirnya siap juga ne cerpen…hahhaa. Moga aku berhasil,..hemmm”Senyum Alin mengembang.
“Astaga…udah jam 7 malam. Jendela pasti belum dikunci…Oh my Gosh.”Alin bergegas mengunci semua jendela rumahnya. Langkahnya terhenti saat matanya memandang foto yang tergantung di dinding. Hatinya kalut, air matanya menetes di pipi. Kerinduan yang mendalam mendera hatinya, rindu seorang anak kepada ayahnya.
“Pa,..Alin sekarang sudah besar, Alin udah ga cengeng lagi, papa pasti bahagia lihat Alin sama mama. Papa baek-baek aja kan di surga?Alin rindu papa.”kata Alin sambil terisak-isak.
Kerinduan Alin selama bertahun-tahun yang tak pernah terobati, selama ini hanya mama yang membuatnya kuat dan tumbuh seperti teman-teman lainnya. Dalam hidup, kita pasti mengalami hal serupa, ditinggal oleh orang yang kita sayangi. Butuh waktu dan semangat yang tinggi untuk bisa bangkit dari keterpurukan.
Sebulan tlah berlalu, siang itu seperti biasa, setelah pulang sekolah Alin selalu duduk di jendela belakang rumahnya, melihat pemandangan indah perbukitan nan hijau, merasakan udara segar yang menyejukan jiwa. Alin selalu menikmati kesendriannya, mama tersayangnya menghabiskan kesehariannya di rumah Bu Hardi, kepala sekolah Alin sekaligus majikan mamanya. Hampir 5 tahun mamanya bekerja di rumah Bu Hardi, semua itu dilakukan mamanya supaya mereka dapat bertahan hidup dan mempunyai kehidupan yang layak seperti orang lain. Tidak sia-sia semua perjuangan mamanya, kini Alin dan mamanya bisa hidup berkecukupan.
Alin tersentak kaget saat mendengar ketukan pintu, Alin bergegas menuju ruang tamu. Dibukanya pintu itu dan dia mendapati seorang gadis, sebaya dengannya sedang berdiri di depan pintu itu. Alin kaget, saat tahu siapa gadis itu.
“Tiara?? Ko bisa tahu rumahku?”
“Kebetulan aku lewat sini, Tiara gitu lho, pasti tahu lah. Kamu nya aja yang ga mau maen-maen.” Tiara menjawab pertanyaan Alin.
“Hemm..aku ga tahu daerah sini, takut nyasar hehhe”.Balas Alin.
“Ikut aku yuuk Lin,..dijamin ga kan nyesel dech. Kamu ada sepeda kan?”
“Ia ada, kemana?”
“Ayolah…tempatnya seru ko”
“Okay lah, aku kunci pintu and ambil sepeda dulu.”
Akhirnya mereka berdua bisa bersepeda bersama, saling beriringan mengelilingi perkampungan itu, dan hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah danau yang sangat indah. Suasana danau yang menakjubkan, begitu memukau perhatian Alin. Selama ini dia belum pernah menemukan tempat indah seperti ini.
“Woy..bengong aja. Gimana?bagus ga tempatnya?” Tiara mengagetkan lamunan Alin.
“Sumpah dech, ne tempat bagus banged,.thanks ya Ra uda ngajakin aku ke sini”
“Gitu dounkzz, makanya jangan bersemedi di rumah trus hehhehhe….kidding”
Alin tertawa bahagia mendengar perkataan Tiara, memang benar apa yang di bilang Tiara, selama ini dia selalu berdiam diri di rumah. Padahal, banyak hal indah di luar rumah yang bisa dia dapatkan. Kini mata Alin terbuka, dia merasa bahagia bisa menikmati semua keindahan ini.
“Oa Lin…papa kamu kemana? Ko tiap hari mama kamu yang antrin ke sekolah?”
“Papa, udah bahagia di surga Ra. Udah 10 tahun lebih papa ninggalin aku sama mama”. Jawab Alin sambil meneteskan air mata.
“Sorry Lin,..aku ga bermaksud buat kamu sedih.”
“Ga papa Ra.. oa selama ini kamu sendirian aja maen sepeda?”
“Ia..abis gua ga betah di rumah, cuma Bi Ijah aja yang nemani gua. Mama sama papa sibuk dengan bisnis mereka. 1 minggu sekali mereka ke sini, selebihnya mereka di Jakarta dan di Bandung. Awalnya aku tinggal di Jakarta sama kakak, tapi gua bosan juga di Jakarta, selalu diatur-atur. Makanya itu, gua tinggal di sini. Yach..yang penting have fun aja Lin..”
“Oa Lin,..tuw ada teman gua.”
“Siapa?”
“Itu Rangga sama teman-temannya”. Tiara menunjuk ke seberang jalan, tampak serombongan anak cowok sedang bersepeda menuju ke arah danau itu.
“Tenang aja, mereka baik-baik ko”. Tiara menyakinkan Alin.
Alin terpukau saat anak-anak cowok itu berhenti di hadapan mereka. Oh My Gosh…ganteng banget dia. Alin sepertinya ga asing melihat wajah cowok itu.
“Hi Lin..kenalin ini teman ku”
Alin tersentak kaget dan mengulurkan tangannya kepada mereka.
“Rangga”
“Adit”
“Tio”
“Sandy”
“Alin” jawab Alin sambil tersenyum.
“Tumben ne, kalian ga maen bola?” Suara Tiara memecahkan keheningan mereka.
“Ga,..kebetulan lagi break. Oa besok nonton kami tanding ya?”Jawab Rangga.
“Jadi tanding kalian, Ngga??”
“Jadi Ra..nonton ya??sama anak kota besok lawannya. Doain menang ia hehehe…”
“Okay de..”
“Oa..temen-temen semuanya Alin pulang duluan ia?ne udah sore, ga papa kan Ra?”kata Alin.
“Yakin loe Lin, mau pulang duluan??ga bareng ama kita-kita?”
“Yakin ko Ra…bye..bye ALL”
“Hati-hati Lin, besok nonton ya?” kata Rangga.
“Makasih”. Jawab Alin sambil tersenyum.
Alin menuruni bukit itu dengan hati-hati. Perjalanan yang menyenangkan, Alin mengayuh sepedanya dengan semangat, matanya asyik melihat-lihat pemandangan sekitar. Tanpa peduli di depan ada batu. Hingga akhirnya sepedanya oleng karena menabrak batu yang cukup besar itu. Alin terjatuh, dan sepedanya menimpa tubuhnya. Alin merasakan benturan cukup keras di kepalanya. Alin tidak kuat menahan rasa sakit itu, hingga akhirnya dia jatuh pingsan.
“Alin….” Teriak Rangga, yang saat itu melihat Alin tak sadarkan diri. Diangkatnya sepeda itu dari tubuh Alin. Rangga panik, diguncang-guncangkannya tubuh Alin, tapi Alin tetap tidak sadarkan diri juga. Rangga bermaksud memberi nafas buatan, tetapi saat dia mendekati bibir Alin, tiba-tiba Alin terbangun.
“Aaaa…….”teriak Alin.
“Maaf Lin…tadi aku mau ..”
“Kurang ajar banget kamu jadi cowok ya”. Potong Alin. Dia segera berdiri dan bergegas meninggalkan Rangga.
“Tapi Lin..itu ga seperti yang kamu kira, dengerin penjelasanku dulu.”
“Semua cowok busyet dech..aku ga akan percaya sama kamu.” Kata Alin sambil berlalu meninggalkan Rangga.
Satu minggu telah berlalu, sejak kejadian itu Alin tidak pernah bertemu dengan Rangga. Alin merasa bersalah, karena tidak mau mendengar penjelasan Rangga. Setiap hari Alin selalu termenung, memikirkan Rangga. Sindrom jatuh cinta mulai merasuki hatinya. Tanpa kita duga, cinta bisa menghampiri siapa saja, termasuk kepada Alin. Cewek cuex yang selalu mengabiskn waktunya sendirian.
“Sayang…ko melamun aj?’ Mama Alin membuyarkan lamunan Alin.
“Mama ko udah pulang?”
“Mama ada perlu sayang, nanti mama ke rumah Bu Hardi lagi. Oh ya itu ada Rangga anaknya Bu Hardi, ajak ngobrol ia. Mama mau mandi”
“Rangga, Ma???”
“Iya sayang, buruan ge..”
Alin bergegas menuju teras depan, dengan langkah gontai dia menghampiri Rangga. Alin merasa shock saat melihat Rangga. Wajahnya memerah, melihat Rangga duduk di kursi teras rumahnya, ternyata Rangga adalah anak majikan mamanya. Rangga menatap Alin, Alin tersipu malu, tetapi segera dia tepas rasa malunya itu dan kembali ke sifat aslinya cuex.
“Kamu???” Alin memulai pembicaraan.
“Maaf Lin, atas kejadian kemaren. Itu ga seperti yang kamu kira ko.”
“Lupain aja, aku harusnya yang minta maaf sama kamu.”
“Thanks Lin,..jarang-jarang ada cewek baik kaya kamu..heee”
Ali tersipu malu mendengar pujian dari Rangga.
Sejak saat itu, Alin dan Rangga saling dekat. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua, selalu kompak seperti sepasang kekasih layaknya. Walaupun tidak terjalin suatu hubungan cinta diantara mereka. Hal ini membawa perubahan besar dalam diri Alin, Alin yang dulunya pendiam kini telah menjadi seorang gadis yang periang. Rangga selalu member support kepada Alin, bahkan Rangga rela menemani Alin ke kantor pos untuk mengirimkan naskah cerpennya. Walaupun harus menempuh perjalanan jauh yang melelahkan, hal ini tidak membuat semangat Rangga padam untuk membantu Alin. Munginkah ada cinta di hati Rangga untuk Alin?? Hanya waktu yang akan menjawab semua itu. Tetapi yang jelas mereka berdua selalu bersama setiap saat.
Sebulan telah berlalu, suatu hari di jam istirahat Rangga datang menemui Alin ke sekolahnya. Sebelum kenal dengan Alin Rangga juga sering datang ke sekolah itu, untuk menemui mamanya, yang juga kepala sekolah di sekolah Alin. Mereka berdua asyik ngobrol, dan tidak menyadari kehadiran Bu Hardi yang berdiri di belakang mereka.
“Alin…bisa ikut Ibu ke kantor?”
“Baik Bu..” Jawab Alin dengan shock, beribu pertanyaan menghiasi pikiran Alin, dia merasa ketakutan, jika Bu Hardi marah karena mengetahui kedekatan Alin dengan Rangga.
Siang itu, sepulang sekolah Alin langsung bergegas pulang. Hatinya berbunga-bunga, ingin rasanya cepat-cepat memberi kabar bahagia itu kepada mama tercintanya. Hati Alin berdebar-debar dari tadi pagi. Mungkin ini kejutan terindah yang Alin terima. Alin menang kompetisi cerpen itu, dan dia berhasil mendapatkan uang 50 juta, juga sekolah untuk pelatihan penulis muda di Jakarta.
“Mama pasti bangga mendengar berita ini.” Bisik Alin dalam hati.
Alin merasa shock saat sampai di halaman rumahnya, para tetangga Alin sudah berkumpul di rumahnya, mereka berduyun-duyun mendatangi rumahnya. Ribuan pertanyaan menghiasi pikirannya. Apa yang terjadi di dalam rumahnya itu, tanpa pikir panjang lagi Alin segera mempercepat langkahnya untuk mencari tahu rasa penasarannya itu.
Air mata Alin menetes di pipinya, hatinya hancur. Semua itu seperti mimpi, yang Alin sendiri tidak kuat menghadapinya sendirian. Satu detik, dua detik Alin memandang tubuh itu. Hingga akhirnya tangisnya pecah, meriuhkan suasana duka itu. Sosok wanita tegar dan kuat itu, yang selalu menjadi kebanggaan Alin, kini telah terbujur kaku dan tak berdaya. Tubuhnya pucat dan tak bernyawa lagi. Mama tercinta yang begitu dia sayangi, telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Alin masih tidak percaya dengan semua rentetan upacara pemakaman siang itu. Alin belum bisa menerima kenyataan pahit itu.
“Ma,..Alin sayang sama mama. Mimpi Alin udah jadi kenyataan, mama sama papa pasti bangga lihat Alin, moga mama sama papa bahagia di surga” Bisik Alin dalam hati.
Pagi itu, Alin berangkat ke Jakarta. Semua teman-temannya ikut melepas kepergiaannya. Hati Alin rapuh, tetapi dia berusaha tegar dan terus tersenyum di hadapan semua teman-temannya, terlebih ada sosok Rangga yang membuatnya selalu semangat. Beban berat yang harus Alin tanggung, memang tak semudah yang kita kira. Tetapi Alin mampu melewati semua itu. Walaupun air mata terus mengalir, tapi dia percaya ada senyum di balik semua air mata itu.
CORETAN Tangan Putri Pink _ part CINTA DALAM HATI
Cinta itu indah,dan akan terasa indah jika kita bisa berada di samping orang yang kita cintai.Walau hanya untuk menjadi sahabatnya,itu sudah lebih dari cukup.Aku sedang jatuh cinta..hemm cinta pada pandangan pertama.Hatiku terasa dag dig dug daarr jika dekat dia…tapi..aQ hanya diam-diam mencintainya.Ukh..kenapa cinta ini menyiksa q.Panggil saja aq Alin,.
“Hi lin..ketahuan ea lagi ngelamun…ehm..cie_2 ada yang lagi jatuh cinta ne..”,kata Dea sahabat Alin.” Sok tau qm,.hahahha jatuh cinta ma monyet cih ia”,sergah Alin.
“Tuhan,kembalikan sahabat q,yee..kelamaan jomlo ne,makanya qm jadi suka ma monyet.Hahahha”.
“Huh…ga mutu tau canda loe De”,kata Alin sebelum meninggalkan Dea.
“Yach..jangan pergi dounkz…aq becanda Alin.”
“Gua laper…kantin yuuk..mau kut ga?”,kata Alin.
“Oce de say…hahahha”,kata Dea.
Tuhan…cinta ini semakin menyiksa q.Aq ingin melupakannya,,…Tapi aq tak mampu.Bantu aq Tuhan.
“Woy…melamun aja..keburu dingin baksonya neng,”kata Dea .
“Huh..ga seru qm..mirip Mang Udin deh…hahhaaha.”
“Loe kenapa sich De,perasaan dari tadi melamun aj..cerita dounkz.”Kata Dea.
“Ga da papa ko…ahahahaha.”
“Lagi ketawa atau nangis bu??”,Dea menimpali.
Hari yang indah…tapi tak seindah suasana hatiku.Bayu…kenapa q harus mencintaimu??aaaaa…kenapa dengan diriku?hukff…
“Alin..Alin..ada teman qm ne”,Kata mama Alin.
“Siapa Ma?.”
“Woy…lagi tidur atau ngelamun bu?hahhaa.”Suara Dea mangagetkan Alin.
“Wew..tumben qm ke sini?”
“Ke mall yuuk.Bored ne gua di rumah.”
“Ha..ide bagus tuw.Ayolah..ups tunggu bentar.Gua ganti baju dulu.”
“Buruan,..ga pake lama nek.”
“Oce oma…hahahaaha”.Kata Alin.
Beberapa jam kemudian Alin dan Dea sudah berada di Mall.Menikmati udara dingin,sambil melihat-lihat asesoris yang imut dan lucu.
“Hi Alin…tumben ne ke mall.”Sapa Bayu.
Hati Alin deg deg gan…gua mimpi ga ea”,Kata Alin dalam hati.
“Eh mas Bayu…ehm lagi bored aja di rumah.Mas sendiri ngapin ke sini?”
“Ne lagi temani adek…biasalah abang yang baek..heheee”.
“Ehm…baek banget mas ne”.
“Oya..udah dulu ya..mas mau pulang lagi.Ups..satu lagi jangan lupa datang besok ea”.
“Titi dj mas…”
Hati Alin bertanya-tanya,”huh..besok?emang besok ada acara apa…huhuhu…Alin stupid,kenapa tadi ga tanya ma mas Bayu.”gerutu Alin dalam hati.
“Woy…liatin siapa neng?”,Suara Dea mengagetkan Alin.
“Teman ko….”
“Oowh…”
Sepulangnya dari mall,Alin semakin gila,..gila karena cinta Bayu. Beribu-ribu pertanyaan menguak di pikirannya.Huh..gerutunya dalam hati. Apakah cinta ini harus ku pendam trus???Malam semakin larut tapi mata Alin tidak bisa terpejam.
“Apa yang harus kulakukan??aaaaaaa….cinta ini membuatku gila,atau aku perlu jujur sama Bayu?yeah..tapi di mana harga diriku?hohooho..God help me please.”
Dalam waktu 4jam Alin berdebat dengan hatinya.Akhinya Alin menemukan cara yang jitu walau dia harus malu seumur hidup.Diambilnya hp-nya,mulailah dia mengetik sms dan mua isi smsnya adalah semua perasaannya ke Bayu.
“My God…sms terkirim.’’jerit Alin.
Mentari pagi telah bersinar,tapi Alin masih bersembunyi di balik selimutnya yang tebal.Semalam Alin begadang menunggu sms dari Bayu , tapi hingga ia terlelap.Sms Bayu tak kunjung datang.
“Huaah…Alin bangun dari tidurnya.Dan langsung meraih hp-nya . Huh…masih kosong,tak ada balasan”,gerutunya. Cinta..kenapa qm harus hadir?dan terus menghiasi hari-hari Q..Aq sakit harus mencintai qm..kamu tak pernah tahu perasaan Q,2 tahun bukan waktu yang singkat cinta..tapi qm tak pernah tahu…Aq bodoh..terlalu berharap tuk bisa memilikimu…Haruskah Q hapus semua rasa cinta ini untukmu….Aaaaaaaa..
“Alin…Alin…”,Suara mama Alin membuyarkan lamunan Alin.
“Ada apa ma?”
“Sayang..mama perhatikan belakangan ini qm suka melamun.Ada apa Lin??Cerita dounk sama mama.”
“Alin baek-baek aj ko ma.Mama jangan khawatir ea.”
“Mama percaya Sayang…oa mama ada acara di rumah om Leo.Qm mau kan temani mama?”
“Om Leo ma?”.
“Iya..papanya Bayu.Bukannya Qm kenal sama Bayu?”
“Kenal sich ma.Tapi Alin malas pergi ma.Mama bisa pergi sama Indi atau Mas Nando kan ma?”
“Adek sama abang qm kan lagi di Bandung Lin.Please temani mama ea.”
“Serius mama??kapan mereka berangkat?”
“Tadi malam,buruan ge qm ganti baju”.
“Mama…Alin mau di rumah aj…malas ke sana.Ukh…ntar Alin patah hati ge..huhuhuu…”
“Qm suka ma Bayu?sayang..harusnya qm semangat dounks dan tunjukan ke Bayu kalau qm suka sama dia.Cammon baby…sebelum semuanya terlambat,hari ini Bayu akan bertunangan.Siapa tahu dia juga punya perasaan yang sama.Mama dengar dia dijodohkan dengan anak teman papanya”.
“Mama Q yang baik..Alin ga mau dow agresif ma cow…huh ga banged dech ma.”
“Jadi…qm ga mau ikut mama??”
“Ga ma”.
“Oce..qm baek-baek di rumah ea.”
Seperginya mamanya, Alin langsung masuk kamar.Huh..direbahkannya tubuhnya di tempat tidur.”Mama ne aneh..udah tahu hari ini pesta pertunangan Bayu, tetap aja maksa Alin ikut.Huh..”.kata Alin dalam hati.
Cinta terkadang menyakitkan…cintaku untukmu tak pernah engkau hargai. Aku tahu, aku tak sempurna,,tapi aku juga punya hati.Cinta…Ku harus menghapusmu dari hatiku.Aku tak butuh engkau.Aku yang salah,.harus mencintaimu.Aku tak bisa menghindari perasaan ini, tapi kini aku sudah melupakanmu cinta. Biarlah semua ini ku simpan dalam memoryku.Walau hanya sebuah rasa, tapi aku bahagia bisa mencintaimu. Cinta yang hanya dalam hatiku.
Rabu, 01 Februari 2012
“Jangan Hanya Bercermin, Tetapi Lihatlah Di Baliknya dan Kejarlah”
Oleh : Yulia Tri Utami
Jangan hanya bercermin, tetapi lihatlah di baliknya dan kejarlah adalah suatu kalimat yang mudah untuk dicerna dan dipahami. Setiap orang pasti ingin kehidupannya lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bukan hanya orang yang menginginkan perubahan itu tetapi juga suatu Negara. Seiring berjalannya waktu, kehidupan di Negara kita semakin memburuk. Rintihan tangis dan jeritan rakyat jelata masih terdengar. Tetapi lambat laun, suara tangis dan jeritan itu semakin terabaikan. Seolah-olah itu hal biasa yang tidak perlu diperjuangkan. Siapakah yang salah?? Rakyat jelata atau pemerintah?. Di dalam hidup, kita tidak boleh saling menyalahkan, terlebih ini adalah masalah hak asasi manusia, kita sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab untuk kemajuan negeri ini, sebisa mungkin kita harus memperjuangkan hak mereka. Mereka yang masih tertindas, mereka yang masih teraniaya, seharusnya kita bisa memberikan yang terbaik kepada mereka.
Mencoba melihat ke belakang, karena masih begitu banyak kekurangan yang kita miliki. Baik dari pemerintah, segi kehidupan warga Negara dan dari aspek ekonomi, social, politik dan hukum. Sering kali kita merasa iba, jika melihat kehidupan di Negara kita yang semakin memburuk. Hanya rasa iba kah yang kita miliki? Semua itu tidak berarti kawan, tanpa berbuat sesuatu, karena Negara ini akan tetap terpuruk. Mungkin hanya setitik kesuksesan yang mampu diraih, tetapi di balik semua itu, tidak ada artinya kawan. Rentetan peristiwa maut yang melanda negeri kita, semakin hari semakin menimbulkan luka. Kita sendiri tidak pernah tahu, kapan luka itu terobati. Apakah kita tidak sadar dengan keadaan ini? Apakah uang sudah membutakan mata hati kita? Kita hanya terdiam, dan mungkin merasa acuh saja dengan semua ini karena hanya rakyat jelata lah yang merasakan semua ini, apakah ini yang dinamakan saudara, sebangsa dan setanah air? Lalu, kemanakah mereka? Para penguasa negeri ini? Mengapa nama mereka selalu tertera di deretan kertas hitam itu? Apakah dunia ini sudah terbalik, kawan?? Di saat rakyat butuh kasih sayang, mereka tidak pernah ada. Bahkan mereka menghilang, inikah yang dinamakan pemimpin? Para koruptor kelas kakap yang korupsi milyaran bahkan trilyunan begitu gampangnya dibebaskan dari dakwaan, masih bisa berkeliaran dengan bebas, rekreasi ke luar negeri, masih bisa jalan-jalan di tempat hiburan, bahkan ada yang sudah di putus dengan hukuman penjara pun masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan “enjoy-nya”. Padahal mereka jelas-jelas mencuri uang Negara, pengkhianat amanah 300 juta penduduk Indonesia, tetapi kenapa seolah-olah hukum “sangat bersahabat” dan menjadi “kaki tangan” mereka. Sementara pencuri ayam, pencuri semangka, pencuri jagung, pencuri sawit bisa terkena dan terancam hukuman tiga bulan penjara bahkan lima tahun penjara padahal mencurinya karena untuk mempertahankan hidupnya. Kita juga masih ingat bagaimana kasus upaya kriminalisasi terhadap KPK yang makin menunjukkan potret penegakan hukum di Indonesia masih suram, masih jauh dari ketidakberpihakan dan masih jauh dari tujuan hukum itu sendiri yaitu menciptakan keadilan. Bukan tidak mungkin kasus-kasus lain pun sebenarnya banyak yang seperti itu. Mungkin kebetulan kasus ini saja yang baru terungkap ke masyarakat. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tersurat dalam sila ke-5 pancasila seolah-olah hanya menjadi slogan tidak mengaplikasikan pada kehidupan bangsa ini. Tanpa merasa bersalah, dan tanpa melakukan perubahan. Untuk para koruptor para pemimpin rakyat, mereka seolah-olah angkat tangan, tidak tahu menahu dengan hukum. Seolah-olah dengan mendekam di Bui, semua masalah sudah selesai. Jika ditinjau dari segi psikologi, hal ini semakin memperburuk keadaan. Berapa kerugian yang kita capai??mungkin sudah beratus –ratus triliyun atau mungkin sudah tidak terhitung lagi jumlahnya karena terlalu banyak uang yang dihamburkan, hanya untuk kesenangan semata. Mungkin rasa sadar dan rasa malu itu sudah lenyap ditelan masa, padahal itu bukan uang sembarangan, itu bukan uang untuk shopping, itu juga bukan uang untuk memenuhi hawa nafsu kalian. Uang-uang itu adalah sebagian kecil senyum mereka, para rakyat jelata. Jadi, jika uang itu dikorupsi juga, berarti mereka juga merenggut kebahagiaan mereka. Suatu masa kepemimpinan yang butuh renovasi, untuk mengembalikan hati yang sudah ternoda, untuk membukakan mata yang sudah buta, dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Melihat ke belakang, untuk melangkah lebih maju lagi.
Bangkitlah pemerintahku karena rakyatmu masih membutuhkanmu. Ribuan asa masih kami gantungkan di lenganmu, tawa bahagia yang ingin kami rasakan. Kami sudah tidak mampu lagi untuk menitikan air mata itu. Suara kami sudah menghilang, pemerintahku. Kami diam, bukan berarti kami tak menghiraukan kalian lagi. Andai engkau tahu isi hati kami, mungkin kesedihan itu tidak akan pernah kami alami. Itulah sepenggal perjalanan hidup yang harus kami lalui. Kami masih mempercayaimu untuk membawa kami ke kehidupan yang layak, biarlah perubahan itu terjadi secara bertahap. Mari kita melangkah bersama untuk lebih maju lagi, mari kita bangkit dari keterpurukan ini. Kita harus sadar, hanya Indonesia satu-satunya negeri yang kaya raya. Kaya akan budaya, bahasa, suku, adat, alam, dan semua hal yang indah, yang tidak ada di tempat lain. Kita harus menjaga kekayaan yang kita miliki ini untuk masa depan yang lebih cerah lagi. Kita harus menunjukan kepada dunia, bahwa kita mampu menerjang derita yang melanda negeri ini. Kita harus mampu menunjukan kepada dunia bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang jaya, yang bisa bangkit dari keterpurukan. Tetapi kita harus ingat, tanpa usaha , semua ini akan sia-sia. Mungkin, setiap saat kita selalu melihat ke belakang, kita selalu teringat tentang hal atau pun kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, dan bahkan kita selalu bercermin dari pengalaman masa lalu, tetapi terkadang kita melakukan hal yang salah dalam hidup ini. Kita selalu melihat ke belakang, kita selalu merenungi kesalahan kita di masa lalu. Tetapi itu kita lakukan hanya semata-mata untuk penyesalan belaka. Semua itu terasa sia-sia, kita tidak akan pernah menjadi yang terbaik jika kita tidak berusaha untuk melakukan perubahan itu. Menjadi yang terbaik adalah hal yang tidak mudah dalam hidup ini, tetapi dengan berusaha semampu kita, kita pasti bisa menjadi yang terbaik. Walau terkadang cobaan, hambatan dan godaan selalu menerpa kita, tetapi dengan kita berusaha untuk bertahan sebisa mungkin , kita pasti bisa melalui itu semua. Untuk langkah awal, paling tidak kita bisa menjadi yang baik dari yang terbaik. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, untuk itu jangan menyerah untuk mencoba hal yang baru, yang nantinya bisa membawa negeri ini lebih maju lagi.
Bercerminlah, negeriku,…melihat sejenak ke belakang dan kejarlah ketinggalan yang saat ini kita miliki untuk bisa membangun Indonesia yang jaya, yang punya moral dan etetika yang baik, yang bisa menjadi teladan bangsa lain. Untuk para pemimpin bangsa, lihatlah cermin kehidupan negeri kita, lihatlah apa yang ada di cermin itu, beribu-ribu peristiwa nan silam yang memberikan tawa bahagia dan merenggut tawa bahagia negeri ini, kita tidak hanya bercermin, terlebih setelah melihat hal-hal yang indah dalam cermin itu. Jangan langsung merasa puas dengan hasil yang kita peroleh saat ini. Tetapi kita harus berusaha untuk mempertahankan keindahan itu, dan berusaha untuk mengejar ketinggalan yang ada. Kita harus bangkit, kita harus mampu berdiri tegak untuk membawa bangsa ini ke kehidupan yang layak, kita harus bisa menegakan hukum yang sudah mulai rapuh, dan kita harus bisa memberantas habis para koruptor. Tidak hanya itu, kita harus melakukan perubahan-perubahan besar dalam diri kita, karena yang perlu dirubah dan yang perlu direnovasi dalam negeri ini adalah moral bangsa kita, moral para pemimpin kita, bukan bangunan yang berdiri menjulang beribu-ribu tingkat itu. Etetika dan moral pemimpin sangat mencerminkan etetika dan moral yang dipimpin, untuk itu mari kita bersama-sama meninggalkan prilaku yang buruk , yang saat ini dipandang sebelah mata oleh semua dunia. Mari bersama-sama kita tanamkan kata-kata ini di dalam hati kita, dan kita harus bisa melakukannya.”Tanpa korupsi, aku masih bisa hidup”. Artinya adalah walaupun kita tidak mengkorupsi uang rakyat atau uang siapa pun, kita masih bisa hidup, kita masih bisa memperoleh kebahagiaan. Karena uang sifatnya sementara, tetapi kebahagiaan bersifat kekal dan tak ternilai dari apa pun. Untuk para pemimpin rakyat ada kata-kata mutiara yang bisa kita tanamkan di hati mereka” Bahagia-ku bahagia-nya rakyat, Sedih-ku sedih-nya rakyat” maksudnya di sini adalah apa pun yang dirasakan oleh para pemimpin bangsa baik itu rasa bahagia ataupun sedih, itu juga dirasakan oleh rakyat, begitu juga sebaliknya apa pun yang dirasakan oleh rakyat baik itu rasa bahagia atau pun sedih, para pemimpin bangsa juga ikut merasakannya. Mari kita bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik. Indonesia 2012 yang berakhlak mulia.
Hidup Indonesia-ku, Hidup pemimpin-ku, Hidup rakyat-ku. Merdeka selamanya.
Oleh : Yulia Tri Utami
Jangan hanya bercermin, tetapi lihatlah di baliknya dan kejarlah adalah suatu kalimat yang mudah untuk dicerna dan dipahami. Setiap orang pasti ingin kehidupannya lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Bukan hanya orang yang menginginkan perubahan itu tetapi juga suatu Negara. Seiring berjalannya waktu, kehidupan di Negara kita semakin memburuk. Rintihan tangis dan jeritan rakyat jelata masih terdengar. Tetapi lambat laun, suara tangis dan jeritan itu semakin terabaikan. Seolah-olah itu hal biasa yang tidak perlu diperjuangkan. Siapakah yang salah?? Rakyat jelata atau pemerintah?. Di dalam hidup, kita tidak boleh saling menyalahkan, terlebih ini adalah masalah hak asasi manusia, kita sebagai orang yang mempunyai tanggung jawab untuk kemajuan negeri ini, sebisa mungkin kita harus memperjuangkan hak mereka. Mereka yang masih tertindas, mereka yang masih teraniaya, seharusnya kita bisa memberikan yang terbaik kepada mereka.
Mencoba melihat ke belakang, karena masih begitu banyak kekurangan yang kita miliki. Baik dari pemerintah, segi kehidupan warga Negara dan dari aspek ekonomi, social, politik dan hukum. Sering kali kita merasa iba, jika melihat kehidupan di Negara kita yang semakin memburuk. Hanya rasa iba kah yang kita miliki? Semua itu tidak berarti kawan, tanpa berbuat sesuatu, karena Negara ini akan tetap terpuruk. Mungkin hanya setitik kesuksesan yang mampu diraih, tetapi di balik semua itu, tidak ada artinya kawan. Rentetan peristiwa maut yang melanda negeri kita, semakin hari semakin menimbulkan luka. Kita sendiri tidak pernah tahu, kapan luka itu terobati. Apakah kita tidak sadar dengan keadaan ini? Apakah uang sudah membutakan mata hati kita? Kita hanya terdiam, dan mungkin merasa acuh saja dengan semua ini karena hanya rakyat jelata lah yang merasakan semua ini, apakah ini yang dinamakan saudara, sebangsa dan setanah air? Lalu, kemanakah mereka? Para penguasa negeri ini? Mengapa nama mereka selalu tertera di deretan kertas hitam itu? Apakah dunia ini sudah terbalik, kawan?? Di saat rakyat butuh kasih sayang, mereka tidak pernah ada. Bahkan mereka menghilang, inikah yang dinamakan pemimpin? Para koruptor kelas kakap yang korupsi milyaran bahkan trilyunan begitu gampangnya dibebaskan dari dakwaan, masih bisa berkeliaran dengan bebas, rekreasi ke luar negeri, masih bisa jalan-jalan di tempat hiburan, bahkan ada yang sudah di putus dengan hukuman penjara pun masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan “enjoy-nya”. Padahal mereka jelas-jelas mencuri uang Negara, pengkhianat amanah 300 juta penduduk Indonesia, tetapi kenapa seolah-olah hukum “sangat bersahabat” dan menjadi “kaki tangan” mereka. Sementara pencuri ayam, pencuri semangka, pencuri jagung, pencuri sawit bisa terkena dan terancam hukuman tiga bulan penjara bahkan lima tahun penjara padahal mencurinya karena untuk mempertahankan hidupnya. Kita juga masih ingat bagaimana kasus upaya kriminalisasi terhadap KPK yang makin menunjukkan potret penegakan hukum di Indonesia masih suram, masih jauh dari ketidakberpihakan dan masih jauh dari tujuan hukum itu sendiri yaitu menciptakan keadilan. Bukan tidak mungkin kasus-kasus lain pun sebenarnya banyak yang seperti itu. Mungkin kebetulan kasus ini saja yang baru terungkap ke masyarakat. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tersurat dalam sila ke-5 pancasila seolah-olah hanya menjadi slogan tidak mengaplikasikan pada kehidupan bangsa ini. Tanpa merasa bersalah, dan tanpa melakukan perubahan. Untuk para koruptor para pemimpin rakyat, mereka seolah-olah angkat tangan, tidak tahu menahu dengan hukum. Seolah-olah dengan mendekam di Bui, semua masalah sudah selesai. Jika ditinjau dari segi psikologi, hal ini semakin memperburuk keadaan. Berapa kerugian yang kita capai??mungkin sudah beratus –ratus triliyun atau mungkin sudah tidak terhitung lagi jumlahnya karena terlalu banyak uang yang dihamburkan, hanya untuk kesenangan semata. Mungkin rasa sadar dan rasa malu itu sudah lenyap ditelan masa, padahal itu bukan uang sembarangan, itu bukan uang untuk shopping, itu juga bukan uang untuk memenuhi hawa nafsu kalian. Uang-uang itu adalah sebagian kecil senyum mereka, para rakyat jelata. Jadi, jika uang itu dikorupsi juga, berarti mereka juga merenggut kebahagiaan mereka. Suatu masa kepemimpinan yang butuh renovasi, untuk mengembalikan hati yang sudah ternoda, untuk membukakan mata yang sudah buta, dan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Melihat ke belakang, untuk melangkah lebih maju lagi.
Bangkitlah pemerintahku karena rakyatmu masih membutuhkanmu. Ribuan asa masih kami gantungkan di lenganmu, tawa bahagia yang ingin kami rasakan. Kami sudah tidak mampu lagi untuk menitikan air mata itu. Suara kami sudah menghilang, pemerintahku. Kami diam, bukan berarti kami tak menghiraukan kalian lagi. Andai engkau tahu isi hati kami, mungkin kesedihan itu tidak akan pernah kami alami. Itulah sepenggal perjalanan hidup yang harus kami lalui. Kami masih mempercayaimu untuk membawa kami ke kehidupan yang layak, biarlah perubahan itu terjadi secara bertahap. Mari kita melangkah bersama untuk lebih maju lagi, mari kita bangkit dari keterpurukan ini. Kita harus sadar, hanya Indonesia satu-satunya negeri yang kaya raya. Kaya akan budaya, bahasa, suku, adat, alam, dan semua hal yang indah, yang tidak ada di tempat lain. Kita harus menjaga kekayaan yang kita miliki ini untuk masa depan yang lebih cerah lagi. Kita harus menunjukan kepada dunia, bahwa kita mampu menerjang derita yang melanda negeri ini. Kita harus mampu menunjukan kepada dunia bahwa Negara Indonesia adalah Negara yang jaya, yang bisa bangkit dari keterpurukan. Tetapi kita harus ingat, tanpa usaha , semua ini akan sia-sia. Mungkin, setiap saat kita selalu melihat ke belakang, kita selalu teringat tentang hal atau pun kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, dan bahkan kita selalu bercermin dari pengalaman masa lalu, tetapi terkadang kita melakukan hal yang salah dalam hidup ini. Kita selalu melihat ke belakang, kita selalu merenungi kesalahan kita di masa lalu. Tetapi itu kita lakukan hanya semata-mata untuk penyesalan belaka. Semua itu terasa sia-sia, kita tidak akan pernah menjadi yang terbaik jika kita tidak berusaha untuk melakukan perubahan itu. Menjadi yang terbaik adalah hal yang tidak mudah dalam hidup ini, tetapi dengan berusaha semampu kita, kita pasti bisa menjadi yang terbaik. Walau terkadang cobaan, hambatan dan godaan selalu menerpa kita, tetapi dengan kita berusaha untuk bertahan sebisa mungkin , kita pasti bisa melalui itu semua. Untuk langkah awal, paling tidak kita bisa menjadi yang baik dari yang terbaik. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, untuk itu jangan menyerah untuk mencoba hal yang baru, yang nantinya bisa membawa negeri ini lebih maju lagi.
Bercerminlah, negeriku,…melihat sejenak ke belakang dan kejarlah ketinggalan yang saat ini kita miliki untuk bisa membangun Indonesia yang jaya, yang punya moral dan etetika yang baik, yang bisa menjadi teladan bangsa lain. Untuk para pemimpin bangsa, lihatlah cermin kehidupan negeri kita, lihatlah apa yang ada di cermin itu, beribu-ribu peristiwa nan silam yang memberikan tawa bahagia dan merenggut tawa bahagia negeri ini, kita tidak hanya bercermin, terlebih setelah melihat hal-hal yang indah dalam cermin itu. Jangan langsung merasa puas dengan hasil yang kita peroleh saat ini. Tetapi kita harus berusaha untuk mempertahankan keindahan itu, dan berusaha untuk mengejar ketinggalan yang ada. Kita harus bangkit, kita harus mampu berdiri tegak untuk membawa bangsa ini ke kehidupan yang layak, kita harus bisa menegakan hukum yang sudah mulai rapuh, dan kita harus bisa memberantas habis para koruptor. Tidak hanya itu, kita harus melakukan perubahan-perubahan besar dalam diri kita, karena yang perlu dirubah dan yang perlu direnovasi dalam negeri ini adalah moral bangsa kita, moral para pemimpin kita, bukan bangunan yang berdiri menjulang beribu-ribu tingkat itu. Etetika dan moral pemimpin sangat mencerminkan etetika dan moral yang dipimpin, untuk itu mari kita bersama-sama meninggalkan prilaku yang buruk , yang saat ini dipandang sebelah mata oleh semua dunia. Mari bersama-sama kita tanamkan kata-kata ini di dalam hati kita, dan kita harus bisa melakukannya.”Tanpa korupsi, aku masih bisa hidup”. Artinya adalah walaupun kita tidak mengkorupsi uang rakyat atau uang siapa pun, kita masih bisa hidup, kita masih bisa memperoleh kebahagiaan. Karena uang sifatnya sementara, tetapi kebahagiaan bersifat kekal dan tak ternilai dari apa pun. Untuk para pemimpin rakyat ada kata-kata mutiara yang bisa kita tanamkan di hati mereka” Bahagia-ku bahagia-nya rakyat, Sedih-ku sedih-nya rakyat” maksudnya di sini adalah apa pun yang dirasakan oleh para pemimpin bangsa baik itu rasa bahagia ataupun sedih, itu juga dirasakan oleh rakyat, begitu juga sebaliknya apa pun yang dirasakan oleh rakyat baik itu rasa bahagia atau pun sedih, para pemimpin bangsa juga ikut merasakannya. Mari kita bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik. Indonesia 2012 yang berakhlak mulia.
Hidup Indonesia-ku, Hidup pemimpin-ku, Hidup rakyat-ku. Merdeka selamanya.
Cintaku tak seindah pelangi
Cintaku Tak Seindah Pelangi
Oleh : Yulia Tri Utami
Pagi itu seperti biasanya,Erick berangkat ke kampus. Dengan senyum manis mengembang di bibirnya,dia menuju jaguarnya.’’Ukh….siaallll ! Hp tinggal pula di kamar. Satu jam lagi kuliah masuk pula…hohoho”,gerutu Erick. Erick bergegas turun dan mengambil handphonenya.
“Ko balek lagi mas Erick?”kata Mbok Nah. Erick langsung lari tanpa menghiraukan suara Mbok Nah,pembantunya yang mengasuhnya sejak kecil.’’lagi buru-buru mungkin”,kata Mbok Nah dalam hati.
Suasana kampus yang sepi, membuat Erick terpukau. Dia tidak mendapati pujaan hatinya di sudut-sudut kampus, bahkan di tempat biasa mereka menghabiskan waktu berdua. Mata Erick masih focus mencari sosok itu. Sosok cewek cantik yang sangat dia rindukan. Rasa rindu yang menggebu, yang selalu membuatnya semangat untuk datang ke kampus. Semua itu karena Nia, cewek cantik berpostur tinggi itu telah mengubah hari-hari Erick. Jalinan cinta yang mereka rajut sejak duduk di bangku SMA, hingga bertahan sampai sekarang. Tidak heran jika Erick begitu merindukan pujaan hatinya itu.
“Woy,sapi ompong,kenapa bengong?”,suara Andre mengagetkan Erick.”Loe tuw yang ompong…hahahhaaha. By the way..liat Nia ga lu?”Tanya Erick pada sobatnya.”Ke kantin kale,gua juga ga tau..hahaha.”jawab Andre.
“Dasar loe Ndre..”sergah Erick. Suasana hati Erick resah,dari semalam Nia tidak memberinya kabar,bahkan smsnya pun tidak dibalas.”Woy Bro..itu bidadari loe.”kata Andre
Erick langsung bergegas pergi dan menghampiri Nia.’’Hi Baby,kenapa ga ada kabar?aq kangen banged sama qm..hatiku resah tanpa kabar darimu.”kata Erick
“Please,tinggalkan aq sendiri Rick”Jawab Nia
Hati Erick hancur berkeping-keping mendengar jawaban kekasihnya.”Apa salahku honey?”.kata Erick.”Pergiiiii….aq tak ingin qm di sini”,bentak Nia.”Ok,kalau itu mau qm,tapi nanti kasih kabar ea,aq tak bisa jauh darimu honey.”kata Erick sebelum meninggalkan Nia.
Sejak kejadian itu, Nia selalu menghindari Erick. Dan kini Nia harus menerima semua resiko, Nia harus menikah dengan pilihan hati papanya.Pernikahan sudah di depan mata, tetapi Nia masih mengurung diri di kamar. Hatinya tak sanggup harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia kenal. “Erick…aku sungguh mencintaimu..tapi aku tak seperti dulu..aku sudah ternoda Erick. Maafkan aku Erick.”
Terkadang kita harus kehilangan orang yang kita cintai, walau bagaimana pun kita harus bisa menerima kenyataan itu. Aku harus bisa melupakanmu Erick, biarlah semua cinta dan kenangan itu tersimpan dalam memory kita. Tuhan..kuatkan aku, aku tak mampu menghadapi semua ini sendirian. Aku harus menemui Erick, bisik Nia dalam hati.
Langit mendung,akh bad today….hatiku sakit Nia.Kenapa kau acuhkan aku?.Apa salahku?atau mungkin engkau sudah tidak mencintaiku lagi????ribuan pertanyaan menghiasi pikiran Erick.
“Mas Erick,ada mbak Nia ne di ruang tamu”,suara Mbok Nah mengagetkan Erick.
“Woy surprised…baru juga dipikirin.e udah nongol di depan mata..ehmmm”,kata Erick dalam hati.’’Hi baby,.tumben langsung ke rumah?kangen ea?hee”,kata Erick.
“ Rick,aq ingin ngomong sama qm,yach..lebih baek aq bilang sekarang.”kata Nia.
“Bilang aja honey…apa sich yg ga untuk bidadari Q ini”.
“Erick…lebih baik qm lupakan aq. Aq tak pantas ada di sampingmu”.
Duarrr…hati erick hancur berkeping-keping. Sakit bak tertusuk sembilu. Kisah cintanya harus berakhir sampai di sini. Hilang sudah harapan Erick untuk selalu bersama kekasihnya.
“Nia…apa salahku??beri aq alasan kenapa qm meninggalkan aq?”
“Maaf,aq ga punya waktu untuk jawab semua pertanyaan qm,aq harap qm mengerti Rick. Aq tak pantas untuk qm cintai. Aq harus pergi.”
Keesokan harinya, Erick nampak begitu murung, wajahnya sendu. Semua mimpi dan harapan itu, kini telah hancur berkeping-keping.
“Woy..kenapa loe??muram gitu,kayak sapi ompong…hahhahaha”.Sapa Andre.
“Gua lagi patah hati ne,hancur hatiku.”
“Wew,.ne anak kaya cewe aj.”
“Patah hati kan ga hanya tuk cewe doankz…sekali-kali cowo kan boleh patah hati….hahahaaha”,kata Erick.
“Aneh loe Rick..patah hati ko ketawa..hahaa.eh tuw bidadari loe.”
“Udah..ke pustaka yuuk..malas gua di sini.”Kata Erick.
“Itu ada Nia…hello,kenapa qm Rick?”
“Muak aq liat dia…kami udah putus..dan ga akan pernah kembali lagi.Ikut ga?gua tinggal ne.”
“Oke lah…”
“Serius loe udah putus sama Nia??ga nyesel ne putus sama dia…hari gene jomlo bro…ukh ga gaul.”Kata Andre.
“Yach..apa mau dikata,dia yang putusin gua,dan alasan dia pun ga jelas gitu.Puyeng gua ma cewe”.
“Yang sabar Bro…by the way besok jadi kan maen futsal?anak-anak udah pada nunggu tuw,.jangan kelamaan patah hati Bro.”kata Andre.
“Jadi dounk..gua ga abis pikir aja..Nia begitu tega sm gua Ndre. Selama ini kita tahu kalau Nia cewek baek-baek. Tapi ternyata……”
“Sabar Bro..masih banyak yang lebih baik dari Nia,percaya sama gua Andre gitu lho..hahahaa”
“Lebay loe Ndre….hahahha”
Malam yang dingin…sedingin hati Nia, dia gelisah menunggu hari esok.
Mentari pagi bersinar terang, menghangatkan bumi, membawa sejuta cerita untuk dunia. Tetapi Nia masih berdiam diri, hatinya kalut, beribu luka menghantam hatinya hingga hancur berkeping-keping, dan kini dia harus mengumpulkan kepingan-kepingan luka itu untuk mencintai orang lain. Tuhan….aku tak sanggup.
“Non Nia..buruan ke bawah, tamu -tamu sudah pada datang”,suara Bik Ijah mengagetkan Nia.
“ Aku tak bisa Bik, bantu Nia bik”,suara Nia memelas.
“Kreekk…”Bik Ijah membuka kamar Nia.
“Kenapa non?ini semua untuk kebaikan non Nia juga kan?kasihan janin yang ada di dalam kandungan non,dia tidak bersalah non”
“Cukup Bik,Nia ga mau dengar lagi”
Nia menangis dan jatuh di pelukan Bik Ijah. Hatinya semakin sakit jika harus menikah dengan orang yang tidak dia kenal,apalagi sekarang dia sedang mengandung janin orang yang tidak dia kenal juga. Begitu berat penderitaan yang harus dia jalani, bukan hanya Nia yang terpuruk tapi juga kedua orang tuanya.
“Non..kita ke bawah ya?kasihan tamu-tamu yang sudah datang non,”ajak Bik Ijah.
Selama tiga jam rangkaian acara pernikahan pun berjalan dengan sempurna. Nia harus memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Walau kini hatinya sedang menangis berderai-derai.
Lima tahun tlah berlalu, tanpa terasa kini Erick tlah menjadi seorang dokter. Hari yang indah, awal yang indah bagi Erick untuk memulai karirnya di tempat yang baru. Erick langsung ditugaskan di rumah sakit terbesar dan terkenal di kota Bandung.
“Pagi..dok,hari ini ada pasien balita.”
“Balita?silahkan suruh tunggu sus”,jawab Erick.
“Baik dok”
“Aditya Pramana…”
“Iya sus..saya mamanya”
“Silahkan ke ruang dokter sekarang,dokter Erick sudah menunggu.”
Darr,..jantung Tania berdetak kencang mendengar nama dokter Erick.
“Baik sus,.”kata Tania sambil bergegas menuju ruang dokter Erick.
“Selamat pagi dok”
“Pagi,silahkan isi formulir ini.Dan apa saja keluhan anak ibu?”
“Baik dok,anak saya sudah dua hari ini demam dan nafsu makannya juga berkurang”.
“Setelah saya periksa, keadaan anak ibu cukup membaik. Ini resepnya, silahkan ambil di apotik
tapi sebelumnya saya lihat dulu data-data ibu,agar cepat diproses”
“Silahkan dok”
“Tania larasati?”
“Iya dok?apa ada yang salah dengan data saya dok?”
“Jadi kamu Nia anak Pak Bambang?”
“Dokter kenal ayah saya?”
“Nia,jadi balita itu anak kamu?kamu ga ingat sama saya?”
“Erick…mafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu.”
“Sudahlah..semua sudah berlalu. Hanya saja. aku belum bisa melupakan cinta kita. Semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu.”
Air mata Nia menetes, mendengar kata-kata Erick. “Maafkan aku Erick, cinta kita tak seindah pelangi, selama ini aku tak pernah jujur sama kamu. Demi sosok mungil itu, aku harus mengubur semua kenangan tentang kita. Aku harus menjauh dari sisimu. Jujur aku ga bahagia jalani ini semua, Rick”
“Apa maksud kamu Nia? balita itu?bukankah dia buah hati kalian, dari pernikahan kamu?
“Sosok mungil itu, tlah buat hidupku hancur. Semua berawal dari peristiwa itu. Aku tak pernah mengharapkan semua ini terjadi. Aku hanya manusia biasa, aku harus sabar jalani ini semua.”
“Nia..aku ga ngerti apa maksud semua ini. Beri tahu aku tentang semua ini, Nia”.
“Maaf Dok, saya harus pergi. Kasihan anak saya”. Nia bergegas meninggalkan ruangan Erick.
“Tapi kamu belum jawab pertanyaanku Nia, please beri aku kejelasan”
“Lupakan semuanya Erick, masa depan kamu masih panjang. Di luar sana, masih banyak yang mencintaimu dengan tulus. Aku hanya bagian dari masa lalumu yang kelam.”
“Tuhan…apa maksud semua ini???” bisik Erick dalam hati.
Cinta memang penuh misteri, selalu menyimpan sejuta rahasia yang tak pernah kita tahu, semua rasa yang membuat kita serasa di surga, membuat hari-hari kita bermakna, dan bahkan membuat kita lupa akan segalanya. Itulah cinta, kita tidak akan pernah merasakan cinta sejati jika kita tidak mengalami kerikil-kerikil cinta. Patah hati adalah hal biasa dalam dunia percintaan.
“Aku harus mencari tahu semua ini”. Erick bergegas pergi meninggalkan ruangannya.
“Dokter mau kemana? masih ada pasien yang mau konsultasi sama dokter”
“Setelah jam istirahat, saya kembali lagi. Tolong carikan alamat pasien kita Aditya Pramana, Sus”
“Baik Dok, ini alamatnya Dok di Perumahan Permata jalan Cendana No 2A Bandung”
“Makasih Sus”
Satu jam kemudian, Erick sudah berada di rumah megah di kawasan Cendana. Dia bergegas masuk ke rumah megah tersebut, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti oleh suara yang mengagetkannya.
“Mau cari siapa Den?” tanya perempuan tua itu.
“Ini benar rumah Nia,Bik?”
“Aden siapa? lebih baik Aden pulang saja. Suami Non Nia ga suka Non Nia punya teman lelaki. Nanti bisa jadi masalah kalau Aden tetap bersikeras menemui Non Nia”
“Saya teman Nia,Bik. Saya hanya ingin tahu tentang Nia”
“Maaf Den, saya tidak bisa membantu Aden”
“Tolong ceritakan semua hal yang menimpa Nia 5tahun yang lalu, Bik. Setelah itu saya akan pergi. Saya tidak akan mengganggu dia lagi. Beri saya kejelasan ,Bik. Nia tidak pernah memberi tahu alasan dia, kenapa dia meninggalkan saya 5 tahun yang lalu.”
“Aden, pacar Non Nia waktu SMA?”
“Ia Bik, bantu saya Bik”
“Mbak Nia diperkosa oleh sekawanan perampok yang mencuri di rumah Tuan Bambang, waktu itu saya,nyonya dan tuan ditawan oleh mereka. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena kejadian tersebut Non Nia harus menikah dengan lelaki pilihan papanya, demi sosok mungil itu Den”.kata Bik Ijah sambil meneteskan air mata.
“ Aaaaa…kenapa kamu ga pernah cerita sama aku Nia?”teriak Erick
“Sabar Den, Non Nia ga mau Aden semakin terluka”
“Aku semakin terluka dengan semua kebohongan ini,Bik. Rasa cintaku sudah terlalu besar untuk dia, tapi Nia ga pernah jujur sama aku, Bik”
“Kreekk…”suara pintu terbuka, mengagetkan Bik Ijah dan Erick.
“Ngapain kamu ke sini?aku sudah bilang sama kamu, lupain aku Erick”kata Nia.
Erick bergegas menghampiri Nia, ditatapnya wajah sendu itu,dan dia menjatuhkan tubuhnya di pelukan Nia.
“Cinta kita memang tak seindah pelangi,Nia. Tapi aku bahagia, bisa mencintaimu. Walupun pelangi itu tidak menjadi miliku tetapi Dia akan terus menghiasi langit sehabis hujan, karena pelangi itu abadi. Makasih Nia, semoga kamu tetap menjadi pelangi untuk selamanya. Biarlah aku yang menjadi pengagummu. Tetaplah tersenyum, untuk sosok mungil itu, orang tuamu, dan dia pendamping hidupmu.”
Nia menangis terisak-isak mendengar semua perkataan Erick. Erick melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata di pipi Nia.
“Tetaplah tersenyum,pelangiku.” Bisik Erick sambil berlalu meninggalkan Nia.
Oleh : Yulia Tri Utami
Pagi itu seperti biasanya,Erick berangkat ke kampus. Dengan senyum manis mengembang di bibirnya,dia menuju jaguarnya.’’Ukh….siaallll ! Hp tinggal pula di kamar. Satu jam lagi kuliah masuk pula…hohoho”,gerutu Erick. Erick bergegas turun dan mengambil handphonenya.
“Ko balek lagi mas Erick?”kata Mbok Nah. Erick langsung lari tanpa menghiraukan suara Mbok Nah,pembantunya yang mengasuhnya sejak kecil.’’lagi buru-buru mungkin”,kata Mbok Nah dalam hati.
Suasana kampus yang sepi, membuat Erick terpukau. Dia tidak mendapati pujaan hatinya di sudut-sudut kampus, bahkan di tempat biasa mereka menghabiskan waktu berdua. Mata Erick masih focus mencari sosok itu. Sosok cewek cantik yang sangat dia rindukan. Rasa rindu yang menggebu, yang selalu membuatnya semangat untuk datang ke kampus. Semua itu karena Nia, cewek cantik berpostur tinggi itu telah mengubah hari-hari Erick. Jalinan cinta yang mereka rajut sejak duduk di bangku SMA, hingga bertahan sampai sekarang. Tidak heran jika Erick begitu merindukan pujaan hatinya itu.
“Woy,sapi ompong,kenapa bengong?”,suara Andre mengagetkan Erick.”Loe tuw yang ompong…hahahhaaha. By the way..liat Nia ga lu?”Tanya Erick pada sobatnya.”Ke kantin kale,gua juga ga tau..hahaha.”jawab Andre.
“Dasar loe Ndre..”sergah Erick. Suasana hati Erick resah,dari semalam Nia tidak memberinya kabar,bahkan smsnya pun tidak dibalas.”Woy Bro..itu bidadari loe.”kata Andre
Erick langsung bergegas pergi dan menghampiri Nia.’’Hi Baby,kenapa ga ada kabar?aq kangen banged sama qm..hatiku resah tanpa kabar darimu.”kata Erick
“Please,tinggalkan aq sendiri Rick”Jawab Nia
Hati Erick hancur berkeping-keping mendengar jawaban kekasihnya.”Apa salahku honey?”.kata Erick.”Pergiiiii….aq tak ingin qm di sini”,bentak Nia.”Ok,kalau itu mau qm,tapi nanti kasih kabar ea,aq tak bisa jauh darimu honey.”kata Erick sebelum meninggalkan Nia.
Sejak kejadian itu, Nia selalu menghindari Erick. Dan kini Nia harus menerima semua resiko, Nia harus menikah dengan pilihan hati papanya.Pernikahan sudah di depan mata, tetapi Nia masih mengurung diri di kamar. Hatinya tak sanggup harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak dia kenal. “Erick…aku sungguh mencintaimu..tapi aku tak seperti dulu..aku sudah ternoda Erick. Maafkan aku Erick.”
Terkadang kita harus kehilangan orang yang kita cintai, walau bagaimana pun kita harus bisa menerima kenyataan itu. Aku harus bisa melupakanmu Erick, biarlah semua cinta dan kenangan itu tersimpan dalam memory kita. Tuhan..kuatkan aku, aku tak mampu menghadapi semua ini sendirian. Aku harus menemui Erick, bisik Nia dalam hati.
Langit mendung,akh bad today….hatiku sakit Nia.Kenapa kau acuhkan aku?.Apa salahku?atau mungkin engkau sudah tidak mencintaiku lagi????ribuan pertanyaan menghiasi pikiran Erick.
“Mas Erick,ada mbak Nia ne di ruang tamu”,suara Mbok Nah mengagetkan Erick.
“Woy surprised…baru juga dipikirin.e udah nongol di depan mata..ehmmm”,kata Erick dalam hati.’’Hi baby,.tumben langsung ke rumah?kangen ea?hee”,kata Erick.
“ Rick,aq ingin ngomong sama qm,yach..lebih baek aq bilang sekarang.”kata Nia.
“Bilang aja honey…apa sich yg ga untuk bidadari Q ini”.
“Erick…lebih baik qm lupakan aq. Aq tak pantas ada di sampingmu”.
Duarrr…hati erick hancur berkeping-keping. Sakit bak tertusuk sembilu. Kisah cintanya harus berakhir sampai di sini. Hilang sudah harapan Erick untuk selalu bersama kekasihnya.
“Nia…apa salahku??beri aq alasan kenapa qm meninggalkan aq?”
“Maaf,aq ga punya waktu untuk jawab semua pertanyaan qm,aq harap qm mengerti Rick. Aq tak pantas untuk qm cintai. Aq harus pergi.”
Keesokan harinya, Erick nampak begitu murung, wajahnya sendu. Semua mimpi dan harapan itu, kini telah hancur berkeping-keping.
“Woy..kenapa loe??muram gitu,kayak sapi ompong…hahhahaha”.Sapa Andre.
“Gua lagi patah hati ne,hancur hatiku.”
“Wew,.ne anak kaya cewe aj.”
“Patah hati kan ga hanya tuk cewe doankz…sekali-kali cowo kan boleh patah hati….hahahaaha”,kata Erick.
“Aneh loe Rick..patah hati ko ketawa..hahaa.eh tuw bidadari loe.”
“Udah..ke pustaka yuuk..malas gua di sini.”Kata Erick.
“Itu ada Nia…hello,kenapa qm Rick?”
“Muak aq liat dia…kami udah putus..dan ga akan pernah kembali lagi.Ikut ga?gua tinggal ne.”
“Oke lah…”
“Serius loe udah putus sama Nia??ga nyesel ne putus sama dia…hari gene jomlo bro…ukh ga gaul.”Kata Andre.
“Yach..apa mau dikata,dia yang putusin gua,dan alasan dia pun ga jelas gitu.Puyeng gua ma cewe”.
“Yang sabar Bro…by the way besok jadi kan maen futsal?anak-anak udah pada nunggu tuw,.jangan kelamaan patah hati Bro.”kata Andre.
“Jadi dounk..gua ga abis pikir aja..Nia begitu tega sm gua Ndre. Selama ini kita tahu kalau Nia cewek baek-baek. Tapi ternyata……”
“Sabar Bro..masih banyak yang lebih baik dari Nia,percaya sama gua Andre gitu lho..hahahaa”
“Lebay loe Ndre….hahahha”
Malam yang dingin…sedingin hati Nia, dia gelisah menunggu hari esok.
Mentari pagi bersinar terang, menghangatkan bumi, membawa sejuta cerita untuk dunia. Tetapi Nia masih berdiam diri, hatinya kalut, beribu luka menghantam hatinya hingga hancur berkeping-keping, dan kini dia harus mengumpulkan kepingan-kepingan luka itu untuk mencintai orang lain. Tuhan….aku tak sanggup.
“Non Nia..buruan ke bawah, tamu -tamu sudah pada datang”,suara Bik Ijah mengagetkan Nia.
“ Aku tak bisa Bik, bantu Nia bik”,suara Nia memelas.
“Kreekk…”Bik Ijah membuka kamar Nia.
“Kenapa non?ini semua untuk kebaikan non Nia juga kan?kasihan janin yang ada di dalam kandungan non,dia tidak bersalah non”
“Cukup Bik,Nia ga mau dengar lagi”
Nia menangis dan jatuh di pelukan Bik Ijah. Hatinya semakin sakit jika harus menikah dengan orang yang tidak dia kenal,apalagi sekarang dia sedang mengandung janin orang yang tidak dia kenal juga. Begitu berat penderitaan yang harus dia jalani, bukan hanya Nia yang terpuruk tapi juga kedua orang tuanya.
“Non..kita ke bawah ya?kasihan tamu-tamu yang sudah datang non,”ajak Bik Ijah.
Selama tiga jam rangkaian acara pernikahan pun berjalan dengan sempurna. Nia harus memaksakan diri untuk tetap tersenyum. Walau kini hatinya sedang menangis berderai-derai.
Lima tahun tlah berlalu, tanpa terasa kini Erick tlah menjadi seorang dokter. Hari yang indah, awal yang indah bagi Erick untuk memulai karirnya di tempat yang baru. Erick langsung ditugaskan di rumah sakit terbesar dan terkenal di kota Bandung.
“Pagi..dok,hari ini ada pasien balita.”
“Balita?silahkan suruh tunggu sus”,jawab Erick.
“Baik dok”
“Aditya Pramana…”
“Iya sus..saya mamanya”
“Silahkan ke ruang dokter sekarang,dokter Erick sudah menunggu.”
Darr,..jantung Tania berdetak kencang mendengar nama dokter Erick.
“Baik sus,.”kata Tania sambil bergegas menuju ruang dokter Erick.
“Selamat pagi dok”
“Pagi,silahkan isi formulir ini.Dan apa saja keluhan anak ibu?”
“Baik dok,anak saya sudah dua hari ini demam dan nafsu makannya juga berkurang”.
“Setelah saya periksa, keadaan anak ibu cukup membaik. Ini resepnya, silahkan ambil di apotik
tapi sebelumnya saya lihat dulu data-data ibu,agar cepat diproses”
“Silahkan dok”
“Tania larasati?”
“Iya dok?apa ada yang salah dengan data saya dok?”
“Jadi kamu Nia anak Pak Bambang?”
“Dokter kenal ayah saya?”
“Nia,jadi balita itu anak kamu?kamu ga ingat sama saya?”
“Erick…mafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu.”
“Sudahlah..semua sudah berlalu. Hanya saja. aku belum bisa melupakan cinta kita. Semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu.”
Air mata Nia menetes, mendengar kata-kata Erick. “Maafkan aku Erick, cinta kita tak seindah pelangi, selama ini aku tak pernah jujur sama kamu. Demi sosok mungil itu, aku harus mengubur semua kenangan tentang kita. Aku harus menjauh dari sisimu. Jujur aku ga bahagia jalani ini semua, Rick”
“Apa maksud kamu Nia? balita itu?bukankah dia buah hati kalian, dari pernikahan kamu?
“Sosok mungil itu, tlah buat hidupku hancur. Semua berawal dari peristiwa itu. Aku tak pernah mengharapkan semua ini terjadi. Aku hanya manusia biasa, aku harus sabar jalani ini semua.”
“Nia..aku ga ngerti apa maksud semua ini. Beri tahu aku tentang semua ini, Nia”.
“Maaf Dok, saya harus pergi. Kasihan anak saya”. Nia bergegas meninggalkan ruangan Erick.
“Tapi kamu belum jawab pertanyaanku Nia, please beri aku kejelasan”
“Lupakan semuanya Erick, masa depan kamu masih panjang. Di luar sana, masih banyak yang mencintaimu dengan tulus. Aku hanya bagian dari masa lalumu yang kelam.”
“Tuhan…apa maksud semua ini???” bisik Erick dalam hati.
Cinta memang penuh misteri, selalu menyimpan sejuta rahasia yang tak pernah kita tahu, semua rasa yang membuat kita serasa di surga, membuat hari-hari kita bermakna, dan bahkan membuat kita lupa akan segalanya. Itulah cinta, kita tidak akan pernah merasakan cinta sejati jika kita tidak mengalami kerikil-kerikil cinta. Patah hati adalah hal biasa dalam dunia percintaan.
“Aku harus mencari tahu semua ini”. Erick bergegas pergi meninggalkan ruangannya.
“Dokter mau kemana? masih ada pasien yang mau konsultasi sama dokter”
“Setelah jam istirahat, saya kembali lagi. Tolong carikan alamat pasien kita Aditya Pramana, Sus”
“Baik Dok, ini alamatnya Dok di Perumahan Permata jalan Cendana No 2A Bandung”
“Makasih Sus”
Satu jam kemudian, Erick sudah berada di rumah megah di kawasan Cendana. Dia bergegas masuk ke rumah megah tersebut, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti oleh suara yang mengagetkannya.
“Mau cari siapa Den?” tanya perempuan tua itu.
“Ini benar rumah Nia,Bik?”
“Aden siapa? lebih baik Aden pulang saja. Suami Non Nia ga suka Non Nia punya teman lelaki. Nanti bisa jadi masalah kalau Aden tetap bersikeras menemui Non Nia”
“Saya teman Nia,Bik. Saya hanya ingin tahu tentang Nia”
“Maaf Den, saya tidak bisa membantu Aden”
“Tolong ceritakan semua hal yang menimpa Nia 5tahun yang lalu, Bik. Setelah itu saya akan pergi. Saya tidak akan mengganggu dia lagi. Beri saya kejelasan ,Bik. Nia tidak pernah memberi tahu alasan dia, kenapa dia meninggalkan saya 5 tahun yang lalu.”
“Aden, pacar Non Nia waktu SMA?”
“Ia Bik, bantu saya Bik”
“Mbak Nia diperkosa oleh sekawanan perampok yang mencuri di rumah Tuan Bambang, waktu itu saya,nyonya dan tuan ditawan oleh mereka. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena kejadian tersebut Non Nia harus menikah dengan lelaki pilihan papanya, demi sosok mungil itu Den”.kata Bik Ijah sambil meneteskan air mata.
“ Aaaaa…kenapa kamu ga pernah cerita sama aku Nia?”teriak Erick
“Sabar Den, Non Nia ga mau Aden semakin terluka”
“Aku semakin terluka dengan semua kebohongan ini,Bik. Rasa cintaku sudah terlalu besar untuk dia, tapi Nia ga pernah jujur sama aku, Bik”
“Kreekk…”suara pintu terbuka, mengagetkan Bik Ijah dan Erick.
“Ngapain kamu ke sini?aku sudah bilang sama kamu, lupain aku Erick”kata Nia.
Erick bergegas menghampiri Nia, ditatapnya wajah sendu itu,dan dia menjatuhkan tubuhnya di pelukan Nia.
“Cinta kita memang tak seindah pelangi,Nia. Tapi aku bahagia, bisa mencintaimu. Walupun pelangi itu tidak menjadi miliku tetapi Dia akan terus menghiasi langit sehabis hujan, karena pelangi itu abadi. Makasih Nia, semoga kamu tetap menjadi pelangi untuk selamanya. Biarlah aku yang menjadi pengagummu. Tetaplah tersenyum, untuk sosok mungil itu, orang tuamu, dan dia pendamping hidupmu.”
Nia menangis terisak-isak mendengar semua perkataan Erick. Erick melepaskan pelukannya, dan mengusap air mata di pipi Nia.
“Tetaplah tersenyum,pelangiku.” Bisik Erick sambil berlalu meninggalkan Nia.



yulia pinkie niezz































































